SALATIGA-Universitas Islam Negeri Salatiga terus berkomitmen meningkatkan kualitas tata kelola kelembagaan demi memperluas dampak positif bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui gelaran Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kelembagaan yang menghadirkan Kepala Biro Organisasi dan Tata Kelola (Ortala) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, Dr. Nur Arifin. Acara yang berlangsung pada Kamis (2/7) di Ruang Rapat Gedung KH. Ahmad Dahlan, Kampus III UIN Salatiga itu dihadiri oleh jajaran Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan di lingkungan UIN Salatiga.
FGD secara resmi dibuka oleh Kepala Biro Umum, Akademik, Perencanaan, dan Keuangan (UAPK) UIN Salatiga, Dr. Agus Suryo Suripto. Dalam sambutannya, Dr. Agus Suryo menyampaikan bahwa UIN Salatiga terus bergerak dinamis dalam merespons kebutuhan zaman dan masyarakat.
“Sebagai bukti nyata keterlibatan kami dalam merespons kebutuhan masyarakat, setelah sukses membuka Fakultas Sains dan Teknologi, dalam waktu dekat UIN Salatiga bersiap untuk membuka Fakultas Kesehatan Masyarakat,” ujar Dr. Agus Suryo.
Dirinya juga menambahkan bahwa kehadiran Kepala Biro Ortala Kemenag RI merupakan momentum berharga yang patut disyukuri, “Dengan rekam jejak dan pengalaman luas yang dimiliki Dr. Nur Arifin, FGD ini diharapkan menjadi pemantik utama dalam mendorong transformasi kelembagaan UIN Salatiga ke arah yang jauh lebih baik.”

Kepala Biro Ortala Setjen Kemenag RI, Dr. Nur Arifin dalam paparan materinya menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang rasional. “Kampus adalah tempat untuk membangun SDM yang rasional. Cara berpikir seseorang adalah hasil dari proses pendidikan. Oleh karena itu, kualitas pendidikan harus dijaga dengan sangat baik agar mampu melahirkan generasi yang berpikir logis dan rasional,” tegas Dr. Nur Arifin.
Lebih lanjut, ia memaparkan konsep modern mengenai tata kelola organisasi. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh lagi terjebak dalam paradigma lama yang kaku. “Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu bermutasi dari ‘organisasi mesin’ yang mekanis menjadi organisasi sebagai ‘organisme hidup’. Organisasi harus fleksibel, adaptif, serta peka terhadap tuntutan dan dinamika lingkungan yang terus berubah,” imbuhnya.
Selain itu, dirinya juga mendorong UIN Salatiga untuk jeli menangkap berbagai peluang strategis guna memperkuat eksistensi lembaga. “Kembangkan riset keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman; jalin kemitraan internasional di segala bidang, dengan fokus utama pada penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; manfaatkan teknologi informasi demi kemaslahatan dan kemudahan pelayanan umat, serta optimalkan sumber daya internal untuk pengembangan sektor usaha mandiri kampus. Jika hal itu dilaksanakan dengan baik, insyaAllah eksistensi lembaga akan menguat,” pungkasnya.
FGD tersebut diharapkan mampu menjadi batu loncatan bagi UIN Salatiga dalam mewujudkan tata kelola kampus yang unggul, adaptif, dan bereputasi global. (nhl)

