Urai Stres Beban Ganda Perempuan, DWP UIN Salatiga Bagi Cara Kelola Emosi

SALATIGA-Beban ganda dalam membagi waktu dan energi antara pekerjaan serta keluarga sering menjadi sumber tekanan psikologis bagi perempuan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu stres kronis yang memengaruhi hubungan keluarga dan produktivitas kerja. Menanggapi hal tersebut, Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Salatiga menggelar sesi penguatan kapasitas diri yang membahas pentingnya pengelolaan kesehatan mental dan emosi perempuan, pada pertemuan rutin yang diadakan pada Kamis (22/10).

Hadir sebagai narasumber, psikolog Savitri Dewi, M.Psi., menyampaikan bahwa emosi yang dirasakan adalah sinyal alami tubuh yang perlu dipahami, bukan dipendam. Menurutnya, fenomena stres harian yang dialami sekitar tujuh dari sepuluh orang menunjukkan mendesaknya kesadaran akan regulasi emosi yang sehat.

“Saat menghadapi tekanan peran yang tinggi, langkah awal yang krusial adalah mengambil jeda secara sadar (pause), mengatur pernapasan, serta melatih komunikasi asertif,” ungkap Savitri. Ia menambahkan bahwa kesehatan mental yang terjaga dapat memfasilitasi pengambilan keputusan yang lebih jernih serta terciptanya hubungan keluarga yang lebih harmonis.

Pada kesempatan itu, dirinya juga memaparkan beberapa strategi praktis untuk menjaga keseimbangan emosi yang bisa diterapkan sehari-hari. “Kita harus bisa mengenali dan memvalidais perasaan kita tanpa menghakiminya. Saat tekanan memuncak, tenangkan sistem saraf dengan mengambil napas yang dalam. Jangan lupa untuk menyediakan waktu pribadi/me time untuk merawat diri sendiri. Terakhir, jangan lupa untuk selalu melihat sisi positif pada apa yang terjadi dan bersyukurlah,” ujarnya di depan para anggota yang hadir.

Ketua DWP UIN Salatiga, Hj. Nur Setiawati Rahmah, berharap paparan materi terkait kesehatan mental itu bisa menciptakan kebahagiaan jangka panjang para anggota, keluarga, dan lingkungannya. “Semoga kegiatan kita hari ini dapat membantu para anggota DWP merawat kebahagiaan diri secara berkelanjutan. Kebahagiaan sejati bukanlah tujuan akhir yang abstrak, melainkan cara dan sikap dalam menjalani setiap proses kehidupan,” pungkasnya.