SALATIGA-Universitas Islam Negeri Salatiga menyalurkan air bersih ke 13 desa terdampak kekeringan di Kecamatan Wonosamudro dan Wonosegoro, Boyolali, Senin (23/10). Aksi tersebut merupakan implementasi nyata dari visi Green Wasathiyah Campus dan semangat ekoteologi dalam merespons dampak perubahan iklim di masyarakat.
Penyaluran bantuan air bersih tersebut menyasar kawasan yang mengalami krisis air bersih selama beberapa bulan terakhir akibat kemarau ekstrem. Selain menyalurkan air untuk kebutuhan harian warga, tim pengabdian masyarakat UIN Salatiga yang terdiri dari dosen dan mahasiswa juga memberikan edukasi terkait konservasi air dan pengelolaan lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan ramah lingkungan.
Rektor UIN Salatiga, Prof. Zakiyuddin Baidhawy, menegaskan bahwa kepedulian terhadap krisis iklim merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran agama dan tanggung jawab moral perguruan tinggi. “Melalui paradigma Green Wasathiyah Campus, kami menjadikan prinsip moderasi beragama (wasathiyah) sebagai pemandu dalam menjaga keseimbangan alam. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen UIN Salatiga untuk mendukung agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya tentang akses air bersih dan sanitasi serta penanganan perubahan iklim,” jelasnya lebih lanjut.

Penyaluran air bersih itu disambut baik dan antusias oleh warga. Camat Wonosamudro, Yulianto Wahyu Raharjo, S.E. menyampaikan apresiasi atas aksi yang telah dilakukan oleh UIN Salatiga. “Kekeringan telah melanda wilayah ini selama beberapa bulan terakhir. Bantuan air bersih dari UIN Salatiga tentu sangat membantu sekali,” ujarnya.
Menurut keterangan yang diberikan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Salatiga, Hammam, Ph.D., UIN Salatiga menyalurkan 553.000 liter air bersih ke 13 desa yang ada di Kecamatan Wonosamudro dan Wonosegoro, Boyolali. “Melalui sinergi antara sivitas akademika dan mahasiswa yang sedang melakukan KKN, kami menyalurkan air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan seperti Desa Garangan, Bengle, Bercak, Gilirejo, Gunungsari, Jatilawang, Kalinanas, Kedungpilang, Ngablak, dan Repaking di Wonosamudro, serta Desa Guwo, Kauman, Bojong di Kecamatan Wonosegoro,” jelasnya. Dirinya menambahkan, ke depan UIN Salatiga juga akan merancang program pendampingan berkelanjutan, “Semoga pada masa KKN selanjutnya kami bisa menambahkan fokus pada pemetaan potensi sumber air baru hingga pembuatan pemanen air hujan bagi masyarakat di daerah rawan kekeringan.”

