Cegah Food Waste Program MBG, Riset UIN Salatiga Tawarkan Konsep Eco-Pesantren Berbasis Teologi Isrāf

SALATIGA-Implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pendidikan dan pesantren membawa tantangan tersendiri terkait pengelolaan sisa makanan (food waste) dan sampah kemasan. Riset mengenai model Eco-Pesantren berbasis Ekoteologi dan Green Knowledge Culture di Pesantren Tahfidz Al-Musthofa Tebuireng 16, Temanggung yang disampaikan Prof. Asfa Widiyanto pada gelaran 2026 Annual International Interdiciplinary Conference and Research Expo (AIICARE), Senin (5/10) memberikan solusi mendasar melalui pendekatan kultural dan teologis (ekoteologi).

​”Program pemenuhan gizi seperti MBG tidak cukup hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi harus diimbangi dengan edukasi kebiasaan (habituation). Dalam Islam, menyisakan atau membuang makanan tergolong perilaku isrāf (berlebih-lebihan). Jika konsep isrāf dan syukur diintegrasikan ke dalam budaya belajar harian, santri tidak hanya terpenuhi gizinya, tetapi juga terlatih menghargai makanan dan menjaga bumi dari sisa sampah,” papar Prof. Asfa.

​Melalui model Integrated Eco-Pesantren, pesantren tidak sekadar menjadi penerima manfaat program MBG, tetapi juga bertindak sebagai living laboratory. Integrated Eco-Pesantren mendorong para santri mengukur tingkat food waste, mengolah sisa organik menjadi kompos, serta memilah sampah kemasan secara mandiri. Langkah tersebut membuat program MBG di pesantren dapat berjalan secara hijau, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

​”Selama ini ada celah antara pengetahuan keagamaan dan perilaku ekologis sehari-hari. Riset ini menunjukkan bagaimana ajaran Islam tentang lingkungan tidak berhenti pada hafalan, melainkan bertransisi menjadi identitas ekologis dan budaya hidup santri,” ujar Prof. Asfa mengakhiri paparan risetnya. (nhl)