AIICARE UIN Salatiga Hadirkan Solusi Kesehatan Mental Hingga Kampus Hijau

SALATIGA-Universitas Islam Negeri Salatiga menggelar 2026 Annual International Interdiciplinary Conference and Research Expo (AIICARE), Senin-Selasa (5-6/10). Rangkaian riset yang dipaparkan pada kesempatan tersebut menyoroti kontribusi keilmuan Islam dan sains modern dalam merespons berbagai krisis, mulai dari kesehatan mental generasi muda, diplomasi pendidikan antarnegara, hingga tata kelola kampus hijau ramah lingkungan.

Salah satu riset psikologi sosial-keagamaan yang menyita perhatian disampaikan oleh Dr. Lilik Sriyanti, M.Si. dari UIN Salatiga. Penelitian lintas budaya (cross-cultural study) yang melibatkan 1.235 responden mahasiswa di Indonesia dan Malaysia tersebut meneliti dinamika Quarter Life Crisis (QLC) dan tingkat religiusitas. Hasil studi menunjukkan nilai-nilai keagamaan yang dihayati secara positif berperan sebagai benteng psikologis dalam meredakan kecemasan karir, tekanan akademis, serta ketidakpastian masa depan mahasiswa.

​Di bidang pendidikan dan norma sosial, Prof. Sa’adi mengeksplorasi hubungan Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan nilai-nilai wasathiyah (moderasi Islam). Studi kualitatif yang mengambil lokus di SMA Al-Islam Surakarta (Indonesia) dan Sekolah Menengah IMTIAZ Yayasan Trengganu (Malaysia) itu memetakan bagaimana kedua negara menanamkan nilai tawasuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh. Kajian tersebut mendapati bahwa budaya guyub rukun dan ideologi Pancasila di Indonesia memberikan nilai tambah pada kultur toleransi dalam keberagaman, sementara kedua lembaga pendidikan yang diteliti mampu mengintegrasikan nilai moderasi secara efektif melalui kurikulum dan pengabdian masyarakat.

Sedangkan riset dari Prof. Supardi menjawab tantangan internasionalisasi perguruan tinggi dengan pemaparan model Transnational Academic Quality. Riset yang menggunakan studi kasus di Markaz Syeikh Zayed, Universitas Al-Azhat, Kairo tersebut merumuskan strategi penjaminan mutu dalam menjembatani jurang kebahasaan (linguistic gap) bagi mahasiswa internasional. ​Melalui transisi dari General Arabic ke Academic Arabic (AAP) yang terstruktur dan berbasis moderasi, model itu terbukti mampu menekan angka academic burnout, meminimalisasi drop-out, serta meningkatkan daya tahan akademis mahasiswa global.

​Tidak hanya fokus pada manusia dan pemikiran, AIICARE juga menyajikan gagasan wawasan lingkungan berkelanjutan melalui karya Prof. Dr. Maslikhah, S.Ag., M.Si. yang bertajuk “Mewujudkan Green Campus Melalui Arsitektur Hijau”. Riset tersebut menawarkan roadmap transformasi kampus dari sekadar fasilitas fisik menjadi organisme akademik yang hidup dan ramah lingkungan. ​Prof. Maslikhah memosisikan kampus sebagai living laboratory dengan memadukan pilar arsitektur hijau seperti efisiensi energi pasif, konservasi air, dan ekonomi sirkular dengan tata kelola institusi berbasis ekoteologi. “Arsitektur hijau membangun ruangnya; pendidikan membangun pengetahuannya; dan budaya ekologis membangun manusianya,” tegas Prof. Maslikhah.

AIICARE menegaskan komitmen UIN Salatiga untuk menjadi pusat penciptaan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi peradaban global. Integrasi antara sains, pemikiran Islam, dan kepedulian lingkungan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat yang inklusif, sehat secara mental, dan berkelanjutan. (nhl)