Sinergikan Eko-Teologi dan AI Beretika, ICEDEES 2026 UIN Salatiga Tawarkan Arah Baru Ekonomi Digital Berkelanjutan

SALATIGA-Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Salatiga menggelar 1st International Conference on Eco-Theology, Digital Economy and Environmental Sustainability (ICEDEES) 2026. Gelaran tersebut berupaya menjawab tantangan terkait krisis iklim dan risiko etika penggunaan kecerdasan buatan yang muncul di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital global. Konferensi internasional yang digelar Rabu (14/10) itu menghadirkan para pakar global dan praktisi lintas disiplin untuk merumuskan kerangka kerja baru yang mengintegrasikan nilai ekoteologi, inovasi teknologi, dan sistem keuangan hijau.

Pakar Sistem Informasi Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Ir. R. Rizal Isnanto, S.T., M.M., M.T., menegaskan bahwa gelombang generative AI dan hyperautomation tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab lingkungan dan tata kelola etika. “Tantangan bisnis digital saat ini tidak hanya adopsi teknologi, lebih jauh lagi, bagaimana mengelola risiko etika AI, privasi data, serta kesenjangan keterampilan tenaga kerja secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Isu serupa juga disorot oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, Prof. Dr. Muhammad Irfan Helmy. Ia menekankan pentingnya kemitraan akademis internasional untuk mendorong Green & Ethical AI. Menurutnya, konsumsi energi data center AI yang sangat besar memerlukan landasan nilai seperti Amanah dan Maslahah agar inovasi teknologi tidak justru merusak ekosistem bumi.

Dari sektor keuangan, Komisaris Independen PT Bank Mandiri Tbk, Prof. (HCUA) Mia Amiati, S.H., M.H., menyampaikan bahwa industri perbankan nasional mulai menyatukan nilai ekoteologi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). “Kerusakan lingkungan adalah krisis nilai. Integrasi etika keagamaan ke dalam portofolio pembiayaan hijau, green bonds, dan digital carbon tracking menjadi krusial agar modal finansial benar-benar bekerja untuk melestarikan bumi,” jelasnya.

Sementara itu, menjawab tantangan dampaknya pada masyarakat, Dr. Supina Sapri Djalam, Ph.D. dari University of Tabuk, Arab Saudi, mengingatkan bahwa digitalisasi harus menyasar pada penguatan kapasitas komunitas lokal dan desa wisata. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Fatoni University Tailan, Dr. Narong Hassanee, S.E., M.Si., membagikan model pendidikan berbasis wakaf dan pendampingan UMKM halal berbasis prinsip FAITH (Fairness, Innovation, Trust, and Humanity) sebagai bukti nyata keadilan ekonomi.

Sedangkan Peneliti UIN Salatiga, Dr. Fetria Eka Yudiana, M.Si., memaparkan kerangka Islamic Sustainable Marketing Orientation (ISMO). ISMO merupakan sebuah model pemasaran yang mendobrak pola pikir sektoral dengan menyatukan ESG, Maqasid al-Shari’ah, dan AI beretika.

Wakil Rektor bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Salatiga, Prof. Miftahuddin, yang hadir pada kesempatan itu menegaskan bahwa ICEDEES 2026 merupakan komitmen kampus dalam memelopori dialog global yang solutif. Melalui konferensi tersebut, UIN Salatiga berkomitmen menghasilkan rekomendasi kebijakan dan kolaborasi riset internasional yang menempatkan kelestarian lingkungan dan etika kemanusiaan sebagai pusat dari kemajuan ekonomi digital.