UM-PTKIN 2026 Dimulai: UIN Salatiga Fasilitasi Peserta Disabilitas Ujian dengan Nyaman dan Setara

SALATIGA – Pelaksanaan ujian seleksi nasional Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2026 resmi dimulai hari ini, Senin (08/06). Pembukaan ajang seleksi bergengsi tersebut dilakukan secara serentak melalui platform Zoom, menandai dimulainya ujian digital luring (offline) yang akan berlangsung hingga 14 Juni 2026 di 59 titik lokasi ujian di seluruh Indonesia.

Semangat inklusivitas yang dicanangkan secara nasional tercermin kuat di tingkat daerah. Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., menegaskan kesiapan penuh institusinya dalam mendukung dan memfasilitasi seluruh peserta ujian, khususnya bagi para penyandang disabilitas.

“Di UIN Salatiga, kami berkomitmen penuh untuk mewujudkan ekosistem kampus yang berdampak dan inklusif bagi semua kalangan tanpa terkecuali. Pada pelaksanaan UM-PTKIN tahun ini, terdapat 2 peserta difabel yang mengikuti ujian di titik lokasi UIN Salatiga. Kami telah mengondisikan ruang ujian khusus, menyediakan perangkat pendukung yang representatif, serta menugaskan pendamping demi memastikan mereka dapat menjalani ujian dengan nyaman, setara, dan tanpa hambatan teknis,” tegas Prof. Zakiyuddin.

Secara nasional, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Amin Suyitno, M.Ag., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas capaian serta berbagai terobosan teknis yang dihadirkan dalam seleksi tahun akademik ini.

“Kita patut bersyukur karena jumlah pendaftar dan angka registrasi tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan. Ada banyak inovasi serta metode baru yang kita munculkan pada proses pendaftaran tahun ini. Saat ini, anak-anak kita calon mahasiswa sedang menguji langsung keandalan layanan digital di masing-masing kampus,” ujar Prof. Amin Suyitno dalam sambutannya saat membuka acara secara virtual.

Prof. Amin Suyitno juga memuji langkah agresif para pimpinan perguruan tinggi yang turun langsung ke lapangan untuk menyosialisasikan program pendidikan mereka.

“Saya mengapresiasi para pimpinan PTKIN yang telah melakukan strategi ‘jemput bola’ untuk menjaring calon mahasiswa terbaik di wilayahnya masing-masing. Terima kasih kepada seluruh panitia yang bekerja maksimal, sehingga minat masyarakat terus berkembang. Ini membuktikan bahwa keberadaan program studi di PTKIN sangat inklusif bagi siapa pun dan terbuka ramah untuk beragam latar belakang kepercayaan,” tambahnya.

Pada tahun akademik ini, UM-PTKIN mencatatkan performa impresif dengan total 64.479 peserta terdaftar secara nasional. Berdasarkan peta demografi pendaftar, Provinsi Jawa Barat menduduki posisi teratas dengan 9.245 pendaftar, disusul oleh Jawa Timur (8.971), Jawa Tengah (7.440), Aceh (4.083), dan Sumatra Utara (3.956).

Karakter inklusif dan jangkauan yang kian mendunia ini dipertegas oleh Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I. Dalam laporannya, ia memaparkan data objektif yang menunjukkan bahwa PTKIN kini telah menjadi ruang belajar yang aman bagi kelompok disabilitas serta masyarakat multi-keyakinan, bahkan hingga lintas negara.

“Tahun ini, UM-PTKIN diikuti oleh 43 peserta difabel secara nasional, dengan rincian 11 siswa tuna netra, 8 tuna rungu, 7 tuna daksa, dan 17 tuna grahita. Kami memastikan seluruh titik lokasi ujian memberikan fasilitas terbaik dan akses yang ramah bagi mereka,” papar Prof. Abd. Aziz.

Lebih lanjut, Prof. Abd. Aziz mengungkapkan dinamika menarik lainnya di mana kampus Islam negeri semakin diminati oleh kalangan non-muslim dan komunitas internasional.

“Tercatat ada 20 peserta non-muslim yang mengikuti ujian tahun ini, meliputi 17 pendaftar beragama Kristen, 2 Katolik, dan 1 dari aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tidak hanya itu, pada pergelaran tahun ini, kami juga bangga karena terdapat mahasiswa asing, salah satunya dari Papua Nugini, yang ikut ambil bagian dalam seleksi UM-PTKIN untuk menempuh studi di Indonesia,” jelasnya. (zdn/hms)