AIICARE Beri Kesempatan Peneliti Global Jawab Pentingnya Pendekatan Riset Multidisiplin dalam Menjawab Isu Kompleks Masyarakat Modern

SALATIGA-Gelaran 2026 Annual International Interdiciplinary Conference and Research Expo (AIICARE) yang digelar LP2M UIN Salatiga menjadi ajang bagi peneliti dari berbagai negara untuk menjawab pentingnya pendekatan riset multidisiplin dalam menjawab isu kompleks masyarakat modern. Kolaborasi riset lintas disiplin ilmu menjadi kunci utama dan benang merah dari gelaran AIICARE 2026. Menghadirkan pakar dari University of Malaya, Universiti Malaysia Sabah, dan Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar, AIICARE mencoba mencari keseimbangan antara kemajuan ekonomi, tatanan hukum/etika masyarakat, dan harmonisasi interaksi antarbudaya dalam menghadapi pesatnya arus globalisasi dan digitalisasi.

Pada kesempatan tersebut, Assoc. Prof. Dr. Abd Razak bin Zakaria dari University of Malaya mengingatkan bahwa modernisasi tanpa pemerataan infrastruktur dan keamanan data hanya akan memperlebar kesenjangan sosial. “Transformasi digital memang terbukti memacu PDB dan membuka lapangan kerja baru. Namun perlu diingat, digitalisasi juga harus berorientasi pada inklusi sosial,” jelasnya.

Sedangkan Dr. Syamsul Azizul Marinsah (Universiti Malaysia Sabah) menegaskan pentingnya kerangka hukum yang adaptif di tengah kemajuan zaman dan teknologi yang bergerak cepat, “Kerangka hukum yang adaptif namun tetap memegang teguh batas normatif sangat diperlukan di masa sekarang. Contohnya, dalam masyarakat plural Sabah, Juridical Mediation yang meliputi ‘Urf, Maslahah, dan ‘Illah bisa menjawab dinamika sosial modern tanpa mengorbankan nilai-nilai esensial keagamaan.”

Kesiapan digital dan ketahanan hukum perlu dilengkapi dengan kemampuan manusia untuk berinteraksi secara harmonis. Prof. Dr. Anak Agung Ayu Dian Andriyani, M.Hum (UNMAS Denpasa) menekankan bahwa dalam era kolaborasi global (seperti pariwisata dan industri kreatif), kemahiran bahasa saja tidak cukup. “Selain kemahiran bahasa, diperlukan juga Intercultural Competence untuk memahami konteks tersirat (high-context communication). Hal ini diperlukan untuk menghindari etnosentrisme dan membangun hubungan kerja sama yang harmonis,” jelasnya lebih lanjut. (nhl)